Selasa , 29 September 2015, 20:30 WIB

Teknologi Ulir Filter Tingkatkan Kualitas Garam

Red: Yudha Manggala P Putra
Republika/Aditya Pradana Putra
Petani Garam (ilustrasi)
Petani Garam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Peneliti Universitas Indonesia Dr Ir M Idrus Alhamid memperkenalkan Teknologi Ulir Filter kepada petani garam di Cirebon, Jawa Barat untuk menaikkan kualitas spesifikasi produk komoditas tersebut.

"Dengan menggunakan Teknologi Ulir Filter (TUF), spesifikasi garam berhasil dinaikkan," kata Idrus Alhamid di Depok, Selasa (29/9).

Peneliti Universitas Indonesia ini memperkenalkan TUF kepada petani garam di desa Flowen Aras, Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Menurut dia, proses produksi garam konvensional biasanya dilakukan dengan cara berpindah-pindah petakan garam. Ini berpengaruh pada kualitasnya. Garam tradisional rata-rata memiliki kadar NaCl sebesar 85-87 persen, berwarna keruh dengan kadar airnya tinggi.

Pada proses TUF, penggunaan teknologi ulir, penambahan bahan aditif dan geomembran dilakukan secara terpadu. Air laut disalurkan dalam jalur air berbentuk ulir yang membuat perjalanan air cukup panjang. "Tujuannya untuk memperluas permukaan air sehingga waktu penguapan menjadi lebih banyak," katanya.

Ia mengatakan terdapat beberapa pintu air yang merupakan tempat pemindahan air dari kolam satu ke kolam yang lain dalam proses persiapan air tua. Pada pintu air dilakukan penyaringan menggunakan ijuk, batok kelapa dan batu alam yang diletakkan dalam ember atau keranjang plastik.

"Di bagian bawahnya dibuat lubang untuk meminimalkan terbawanya kotoran dari laut," jelasnya.

Dikatakannya penggunaan bahan aditif dan geomembran dilakukan di meja hablur. Dosis bahan aditif adalah sekitar 700 gram per 2.000 liter air tua. Dosis ini dapat menaikkan jumlah garam hampir 1,5 lipat dan memperbaiki mutu garam yang dihasilkan.

"Penggunaan geomembran akan mencegah tercampurnya garam dengan tanah. Pemakaian ketiga metode tersebut secara signifikan dapat mengurangi kotoran-kotoran yang biasanya tercampur pada produksi garam secara konvensional," ujarnya.

Sumber : Antara